Kutukan Rakyat Irak, Afghanistan, dan Palestina Terhadap Amerika

Dipublish oleh Voucher K-vision on Selasa, 09 Agustus 2011

Masyarakat dunia tak berharap
banyak terhadap hasil kesepakatan
antara Gedung Putih dan Partai
Republik tentang kenaikan pagu
utang. Tercapainya persetujuan Kongres
Amerika atas kenaikan pagu utang
itu, justru disambut dengan
pesimisme yang mendalam, dan
dibuktikan dengan ambruknya
bursa saham di seluruh dunia. Tak ada yang menyambut positip. Bursa saham di Asia dan zona Eropa,
semuanya rontok. Ini situasi
ekonomi dan keuangan terburuk
sejak resesi tahun 2008 lalu. Hanya tinggal menunggu waktu, dan
hitungan jari, Amerika Serikat
menjadi negara yang patut
"dikasihani". Paul Krugman,
mengatakan di Wall Streets, "Hanya
tinggal menunggu waktu, Amerika Serikat menjadi bangkrut, dan
berubah menjadi Republik Banana",
yang tidak ada artinya apa-apa lagi.
Pengaruh Amerika Serikat sebagai
kekuatan "Adi daya", hanya menjadi
kenangan sejarah masa lalu. Bagaimana nasib negara Amerika
Serikat, kalau sudah tidak ada lagi
negara yang mempercayai dan mau
memberikan utang? Utang Amerika
Serikat sekarang mencapai $ 14,3
triliun dollar, yang setara dengan 100 persen PDB nya. Amerika Serikat
hanya bisa hidup dengan utang.
Dengan keputusan Kongres, utang
Amerika Serikat akan dinaikkan
dengan tambahan $ 2,4 triliun, dan
mencapai $ 16,7 triliun dollar. Limitasi utang yang masih dapat di tolerir
hanya 60 persen dari total PDBnya. Amerika Serikat memiliki masalah
fundamental ekonomi yang sudah
sangat akut. Terbebani utang,
mengalami defisit anggaran, defisit
perdagangan luar negeri, dan ini
berlangsung sejak zamannya Presiden George Walker Bush. Amerika Serikat dibawah Presiden
Bill Clinton, mengalami kemakmuran,
dan tidak terlibat perang dibanyak
negara. Pajak korporasi dinaikkan.
Sehingga, anggaran (APBN)
mengalami surplus. Berlipat. Karena itu, pengaruh politik Amerika, waktu
zamannya Bill Clinton, sangat kuat,
meskipun tidak banyak
menggunakan kekuatan militernya.
Anggaran pertahanan relative tidak
terlalu besar. Karena, Bill Clinton yang memimpin Gedung Putih, tidak
banyak melakukan petualangan
militer di luar negeri. Di zaman Presiden George Walker
Bush, kebijakannya mengalami
perubahan drastis. Orang-orang
kaya dan korporasi dibebaskan
pajak. George Bush yang berasal dari
Partai Republik menganut paham teori Adam Smith murni. Negara tidak
berhak melakukan campur tangan
terhadap pasar. Pilar utama teori
Adam Smith adalah "Laisez-faire".
Semuanya diserahkan kepada pasar.
Orang-orang kaya dan korporasi tidak lagi mereka dibebani wajib
pajak, karena mereka sudah
memberikan pekerjaan kepada
banyak orang. Maka, di zaman Bush,
orang kaya di Amerika Serikat naik
mencapai 19 persen. Sementara di zaman Bush
pengeluaran anggaran negara
terlalu boros dan terus
menggelembung. Semua defisit itu,
ditutup dengan utang. Maka, akhir
era pemerintah Bush, Amerikan Serikat menimbun utang, yang
jumlahnya mencapai $ 14,3 triliun. Sekarang, ekonomi Amerika Serikat
terus melambat, dan
pertumbuhannya tidak mencapai 2
persen, bahkan minus. Ini semuanya
yang mengakibatkan pesimisme
secara global. Negara dan perorangan yang selama ini percaya
dan merasa aman, ketika mereka
menyimpan dananya dan
memberikan utang kepada Amerika
Serikat, sekarang mulai skeptis. Bagaimana kalau nanti S & P
menurunkan peringkat Amerika
Serikat dari negara yang dianggap
"liquid", kemudian menjadi negara
gagal "default"? Peringkatnya dari
AAA+, kemudian menjadi minus? Selebihnya, di masa George Bush
yang berhasil menduduki Gedung
Putih, selama dua periode itu, lebih
banyak menghabiskan anggarannya
hanya untuk memerangi orang-
orang Islam di Irak, Afghanistan, Palestina dan negara-negara lainnya,
yang dianggap menjadi ancaman
bagi Amerika Serikat. Perang global melawan terorisme,
dan sejumlah kebijakan lainnya,
yang dilakukan oleh Presiden
George Bush, sejak peristiwa WTC
pada 11 September 2001, menguras
anggaran yang tidak kecil. Bertriliun- triliun dollar. Berapa triliun dollar yang harus
dikeluarkan Gedung Putih, hanya
untuk meluluh- lantakkan Bagdad,
Kabul, dan Tepi Barat serta Gaza?
Jutaan orang Islam tewas, hanya
karena sangkaan yang salah, dan tidak memiliki bukti yang valid.
Semuanya hanya didasari sikap
"phobia" yang sangat dalam
terhadap Islam. Amerika Serikat secara permanen
dibebani oleh Israel, yang harus
mengeluarkan anggaran besar bagi
Israel. Amerika Serikat bukan hanya
menjamin keamanan Israel, tetapi
negara yang akan menjadi "Republik Banana" itu, harus menjaga
eksistensi Israel sepanjang zaman
dengan dana, yang tidak masuk
akal. Kesombongan Amerika Serikat
sebagai negara "Adi daya", di masa
depan hanya menjadi ilusi, dan tidak
lagi sebuah fakta dan kenyataan. Ke
depan kita akan melihat proses
kebangkrutan Amerika Serikat secara dramatis. Tentu, kehancuran ekonomi
Amerika Serikat ini, juga
berpengaruh terhadap negara-
negara yang menjadi sekutunya.
Rezim yang menjadi sekutu-sekutu
Amerika Serikat akan berguguran, mirip seperti nilai harga saham yang
berguguran di pasar bursa saham.
Wallahu'alam.



Sumber:
eramuslim

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar