Wawancara dengan Aladin S. Mengga, Calon Wakil Gubernur

Dipublish oleh Voucher K-vision on Jumat, 22 Juli 2011





Bertempat di lantai dua Hotel Maleo,
setelah bertemu di ruang makan,
Jumat, 22 Juli 2011

Koran Mandar bersama Radar Sulbar,
Kantor Berita Antara dan Harian Fajar
melakukan wawancara dengan
Aladin S. Mengga. Salah seorang calon
gubernur yang akan bertarung dalam
pilgub Sulbar Oktober 2011 mendatang.

Dalam pilgub, Aladin S. Mengga salah
seorang tokoh paling kontroversi.
Sebab adanya hubungan darah antara
dirinya dengan salah seorang calon
gubernur di pilgub yang sama, yakni
kakaknya, Salim S. Mengga.

Berikut kutipan wawancaranya yang
pertanyaannya dilakukan silih
berganti empat media yang
mewawancarai Aladin S. Mengga.

Apa alasan Anda berhadapan dengan
kakak Anda, Pak Salim, di pilgub?

Kakak orang partai, Demokrat. Saya
juga, di PDIP. Masing-masing punya
amanah dari partai. Jadi saya harus
loyal terhadap partai.

Tapi kan demokrat tidak memberi
rekomendasi kepada Salim?

Itu ada alasan di DPP sendiri yang
kami tidak tahu.

Sejauh ini bagaimana komunikasi
dengan Pak Salim?

Harmonis. Sebelum dia mendaftar saya
ketemu beliau. Saling pelukan. Beliau
katakan, silahkan maju, saya juga
maju. Kan sama tujuannya.

Waktu tersebar kabar bahwa Anda
menemui Salim, massa Anwar ada
pertanyaan?

Itu secara kekeluargaan, kalau secara
politis, kami ada pilihan masing-
masing.

Kalau berbicara tentang basis massa,
yang tradisional. Apa tidak akan
terjadi perpecahan di situ?

Mungkin akan ada sedikit. Tetapi basis
massa kak Salim berbeda dengan
basis massa saya.

Perbedaannya apa pak?

Kan massa kak Salim kebanyakan
yang tradisionil. Kan banyak generasi
muda sekarang. Nah yang tradisionil
ini sudah pada tua-tua. Jadi pasti ada
perbedaan di situ. Buktinya, pada
waktu pemilihan gubernur yang lalu, itu kan kita bisa lihat persentasenya.
Masih banyak masyarakat yg belum
memilih waktu itu. Tentu umurnya
sekarang mencapai umur wajib pilih.
Ini yang banyak kami andalkan juga,
selain basis massa yang lain. Tergantung tawaran program dari
kami.

Terus dari bapak sendiri, apa yang
menjadi garis besar program yang
akan dibangun bersama pak Anwar.

Saya melihat ada program jangka
panjang 25 tahun. Lima tahun ini
masih belum cukup. Masih
membutuhkan lima tahun ke depan.
Jadi lima tahun yang akan datang
yang akan kami lakukan akan lebih efesien dan efektif. Tidak sekedar
membangun.

Artinya di sini, program yang akan tim
Anda tawarkan sangat berbeda
dengan apa yang ditawarkan SALIM
SAJA?

Saya kira hampir sama.

Tapi kenapa ada perbedaan politik?

Karena begini, saya bukan orang
politik murni. Saya orang birokrasi.
Saya orang perencanaan. Jadi saya
melihat dari sisi pembangunan.
Program pembangunan ke depan. Itu
yang saya lihat. Saya melihat Sulbar ini sangat subur sekali. Wilayah yang
cukup luas. Itu modal dasar kita. Yang
lebih didominasi komoditi ekspor.
Sangat-sangat berharga sebagai
modal dasar kita. Dan tentunya kita
yang butuh pembangunan ke depan yang lebih efesien dan efektif. Karena
selama lima tahun pak Anwar masih
pada penataan birokrasinya.
Sekalipun dia mau cepat tapi
birokrasinya masih perlu ditata. Tapi
alhamudillah sekarang sudah cukup bagus.

Ada pasangan lain, yang menilai
penataan birokrasi masih kurang
efektif sehingga kebocoran-
kebocoran anggaran masih ada.

Kalau itu saya tidak tahu. Setahu saya
kita melihat lahirnya Sulbar. Kalau kita
hitung birokrasinya itu baru paling
tinggi III C, III D. Makanya kita cari
yang diperguruan tinggi. Perlu
kaderisasi, khusus birokrasi yang ada di sini. Dibutuhkan birokrasi yang
sangat kuat untuk membangun
Sulbar. Jadi tidak semudah itu.
Disitulah pak Anwar mau lari cepat.

Dulu pak Anwar pernah bilang,
birokrasi kita masih lemah.

Masih-masih. Itu tidak bisa kita
pungkiri. Sulbar baru lima tahun
efektif. Pemahaman geografis masih
sulit sekali. Seperti batas-batas antar
provinsi itu kan belum dilakukan.
Masih sementara dalam penyusunan tata ruang. Itu sulit dilakukan utk
dilakukan karena harus melibatkan
semua komponen.

Sulbar secara anggaran masih
mengalami kekurangan. Masih
mengandalkan anggaran dari pusat.
Beda dengan Gorontalo yang agak
lebih tinggi. Bagaimana pendapat
Anda?

Hampir semua provinsi masih
bergantung pusat. Itulah yang
dikatakan gubernur birorasi kita
masih sangat lemah. Tapi insya Allah,
di akhir-akhir ini mulai menguat.

Apa yang paling penting supaya
tingkat pendapatan tinggi dan
pembangunan cepat berjalan.

Secara komprehensif, termasuk
investasi, birokrasi, dan infrastruktur
harus dibangun. Ini sekarang
infrastruktu kita masih sangat sedikit
dibanding wilayah yang sangat luas.
Kalau dilihat rasionya, di masa saya kepala dinas PU, masih 0,2% panjang
jalan dibanding luas wilayah
provinsinya. Sedang jumlah idealnya
adalah melebihi 2 %. Ini yang harus
kita lakukan. Kan infrastruktur jalan
urat nadi perekonomian. Ini yang harus kita fokus. Tapi efesien dan
efektif. Betul-betul bisa mendorong
ekonomi masyarakat. Kita butuh
investasi. Tidak ada satu wilayah yang
tidak butuh investasi. Itu pasti.

Bagaimana menjelaskan ke publik
tentang persaingan Anda dengan
kakak Anda.

Saya kira pemilih kita sudah sangat
cerdas. Tidak ada masalah dengan
massa tradisional. Sebab masih
banyak masyarakat yang belum
memilih. Kita lihat pilada di mana pun.
Masih banyak yang belum memilih.

Ada wilayah-wilayah tertentu di
Polman yang mencoba utk digarap
khusus?

Saya kan dari Polman. Jelas basis saya
di Polman. Yang jelas di Polman basis
kami. Tapi tidak menutup
kemungkinan beberapa kabupaten
juga ada.

Polman yang menjadi rebutan?

Iya, karena penduduknya terbanyak.

Bisa cerita sedikit tentang kehidupan
Anda?

Saya lahir di Makassar pada 14 April
1953. Kecil sampai dewasa di
Makassar, nanti mengabdi baru saya
ke Polman (Polmas waktu itu). Lalu
saya sebagai Kepala Dinas PU Provinsi
Sulbar selama dua tahun. Saya akhirnya memilih pensiun dini
beberapa saat setelah bapak saya
meninggal dunia. Pilihan waktu itu,
apakah saya tetap di birokrasi atau
mengelola aset bapak.

Bukan gara-gara pilkada?

Bukan persoalan pilkada. Tidak ada
kaitannya dengan pilkada. PNS kan
tidak boleh berpolitik. Makanya waktu
itu kan saya tidak bergerak waktu
pilkada. Hanya saja orang-orangnya
kakak selalu datang ke Mamuju, masa saya tidak layani. Bayangkan, saya
kepala dinas PU. Itu sangat peka
sekali. Sehingga saya tidak pernah
bergerak melakukan evaluasi
pembangunan selama pilkada. Nanti
setelah pilkada baru saya lakukan itu.

Kegiatan selama setelah pensiun?

Saya bertani di Pare’deang. Sudah
hampir tiga tahun bertani. Jadi selama
saya jadi petani saya adalah orang
yang paling merdeka ha … ha …

Selain di Polman juga mengandalkan
dukungan dari kabupaten lain juga?

Tentu. Karena hubungan emosional
masyarakat Polman itu sangat erat
kaitannya dengan semua kabupaten.
Itu pasti.

Apakah ada “deal-deal” politik
dengan pak Salim?

Waktu ketemu, itu pertemuan
kekeluargaan saja. Harus dipisahkan
pertemuan kekeluargaan dengan
pertemuan politik. Salim ada pilihan,
saya juga ada pilihan. Yang saya
heran, mengapa ini selalu menjadi pertanyaan sewaktu saya kedua maju.
Waktu pilbup dulu, Ibrahim dengan
ABM tidak ada orang tanya. Apakah
tabu? Apakah dosa? Inilah demokrasi.

Kalau di keluarga besar?

Tidak ada persoalan di keluarga kami.

Apakah tidak akan menibmbulkan
konflik di antara keluarga?

Memang itu menimbulkan
kekhawatiran beberapa orang. Tapi
mereka tidak tahu secara internal
kami.

Apa upaya-upaya untuk meredam
potensi-potensi konflik?

Tidak mungkin ada konflik internal
kami. Kami sangat harmonis. Tetapi
kami sangat saling menghargai pilihan
masing-masing.

Kapan pertama kali disampikan ke
Salim bahwa Anda dilamar AAS?

Sudah lama. Sudah lama.

Apakah proyek-proyek raksasa,
misalnya PLTA Karama dan
pembangunan jalan arteri bisa
dilakukan selama lima tahun ke
depan?

Kalau proyek besar itu, biasanya
multiyears tapi insya Allah bisa selesai.
Asal tidak ada kendala-kendala
teknis.

Tapi banyak juga yang menyangsikan
proyek-proyek tersebut bisa segera
selesai.

Investor yang sudah melakukan
visibility studi sudah cukup jelas. Pasti
ada jadwalnya. Seperti jalan negara,
sewaktu saya kepala dinas PU, itu kan
multiyears juga. Dua tahap.
Alhamdulillah sudah banyak yang baik dari Paku sampai Suremana.

Biasanya kan ada janji-janji politik
dengan masyarakat. Apa itu ada?

Saya kira perlu. Nanti ada visi-misi.
Akan kami godok, khususnya 25
tahun mendatang.

Laporan:
Muhammad Ridwan
Alimuddin



sumber:
www.koranmandar.com

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar