Alimuddin/ Nur Salim Ismail/ Adi
Arwan Alimin Jum'at malam (08/07),
terdengar
kabar soal perubahan peta kekuatan
Ali Baal Masdar. Dia batal berpasangan
dengan al Malik Pababari. Dan justeru
berbalik arah ke Tashan Burhanuddin
sebagai pilihannya. Hal mengejutkan itu melengkapi
kejadian tak terduga sebelumnya.
Seperti berpasangannya AAS dengan
Aladin S. Mengga, dalam pemilihan
gubernur Sulawesi Barat Oktober
2011 mendatang. Memang tak ada yang abadi dalam politik.
Tapi
bagaimana pun, kebingungan
hinggap di benak masyarakat
Sulawesi Barat. Dalam ilmu matematika, dikenal istilah
"Diagram Venn", yaitu beberapa
lingkaran dalam sebuah bidang.
Makin banyak kesamaan, makin besar
bidang lingkaran yang saling
bertumpuk. Demikian juga sebaliknya.
Penggunaan Diagram Venn dalam
politik juga membantu, guna memberi
gambaran sederhana, setidaknya
kesamaan sumber daya kekuatan
yang diandalkan oleh para calon
gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Barat.
Tapi namanya juga
politik, 2 + 2 belum tentu 4; politik
bukan matematika.
Ulasan prakiraan peta kekuatan para
calon dan wakil gubernur Sulawesi
Barat. Pengurutannya berdasar abjad,
yaitu Ali Baal Masdar, Anwar Adnan
Shaleh, dan Salim S. Mengga. Penyebutan organisasi, lembaga, atau
pribadi didasarkan pada beberapa
paramater, antara lain: Pertama, Kehadiran mereka pada
acara-acara yang diadakan
pasangannya, yang jelas nampak
sebagai pendukung. Kedua,
membantu pembuatan baliho atau
nama lembaga/ pribadinya jelas atau 'terselubung' mendukung pasangan
tertentu.
Ketiga, berdasar informasi
lisan dari bersangkutan. dan Keempat,
dukungan formal, misalnya dari
parpol. Dengan kata lain, selain parpol, ada
kekuatan (organisasi) di luar partai
politik yang mendukung terang-
terangan, di balik layar, terselubung,
dan diklaim pasangan tertentu bahwa
"orang itu, organisasi itu" mendukungnya. Organisasi yang berpotensi menjadi
"underbow" disebabkan adanya
hubungan emosional atau struktural
dengan pasangan tertentu. Ada juga
yang pragmatis.
Yakni para pengusaha; dan para
pejabat yang terlanjur merasa nyaman
dengan posisi sekarang, di bawah
kepemimpinan si X atau si Y dalam
pemilihan gubernur.
Terakhir, dan ini paling kasihan, yang
berada dalam suasana takut dan
panik. Walau tak ada kebijakan resmi,
ada banyak aksi dukungan terhadap
calon tertentu yang didasarkan pada
rasa cemas dan kekhawatiran. Bila mereka tak mendukung si X atau si Y,
maka pekerjaan atau posisi mereka
akan terancam (mutasi atau bahkan
demosi alias diturunkan pangkatnya).
Ali Baal Masdar & Tashan
Burhanuddin
Beberapa baliho dan iklan di media
massa, kedua pasangan ini
menggunakan 'tagline', ABM-Ta'. Itu
akronim kedua tokoh yang
berpasangan, tapi bisa juga berarti
"ABM milik kita". Pasangan ini didukung Partai Gerindra, PDK dan PNI
Marhaenisme. Organisasi-organisasi yang memiliki
keterkaitan dengan pasangan ini
antara lain: ABM Brother (group yang
memiliki beberapa SPBU di Polman),
KNPI Polman (karena ketuanya Andi
Masri Masdar, adik ABM), Palang Merah Indonesia (PMI) Polman (isteri ABM
adalah mantan ketua, dan ketuanya
saat ini, Syuaib Hannan, juga
merupakan kerabat ABM), birokrat di
lingkungan Pemerintah Kabupaten
Polman (meski secara formil, PNS terlarang aktif berkampanye, ormas
Nasional Demokrat (ketuanya ABM),
Yayasan Beru-beru Nursada
(ketuanya Andi Nursami Masdar, adik
ABM.
Kostum dan penari-penari dari
organisasi ini ikut terlibat mengantar ABM saat mendaftar ke KPU Sulbar),
dan beberapa organisasi kecil lainnya. Adapun organisasi atau potensi
kekuatan yang bersumber dari
Tashan Burhanuddin ialah Yayasan
Tasha Center (TC) dan Palang Merah
Indonesia Sulbar (Tashan adalah
ketuanya), dan birokrat 'binaan' Tashan Burhanuddin selama dia
menjabat Sekretaris Daerah, baik di
Majene, maupun di Provinsi Sulawesi
Barat.
Memang, Tashan Burhanuddin secara
politik berlatar belakang Partai Golkar,
tapi kesediaannya menjadi calon wakil
ABM dianggap pembelotan jika tak
ingin disebut perlawanan.
Sebab
Partai Golkar itu mendukung AAS.
Sejak awal, Tashan memang tak serius
di partai Golkar.
Secara personal,
sebetulnya senyawa kimiawi Tashan
ada di PDK, yang kini diketuai Arifin
Nurdin. Menurut salah seorang ketua DPP
Partai Golkar, Agung Laksono, yang
diwawancarai di sela-sela acara
pembukaan Kemilau Sulawesi
(9/7/11), sikap Tashan Burhanuddin
tersebut akan dikenakan sanksi.
Yakni mencopotnya sebagai wakil
Partai Golkar di DPRD Sulawesi Barat.
Tashan juga dikenal banyak
memimpin berbagai macam
organisasi, mulai dari kesenian
(Persatuan Artis Melayu), olahraga,
ICMI, hingga Dewan Koperasi
Indonesia Daerah Sulawesi Barat.
Terlepas aktif-tidaknya organisasi-
organisasi tersebut, di mana Tashan
secara struktural berada di dalamnya,
ada kemungkinan organisasi tersebut
akan digunakan untuk mengarahkan
dukungan kepada ABM-Ta'.
Basis tradisi ABM-TA
Dari sisi kekuatan basis tradisi, ABM
adalah Maraqdia Tapango.
Jabatan
adat ini diwarisi dari bapaknya,
Masdar Pasmar. Adapun ibunya, A.
Suryani Pasilong adalah anak
bangsawan dari Balanipa, yaitu Pasilong, seorang
Paqbicara Kayyang.
Rumah keluarga
ABM terdapat di Matakali.
Dan di
Polewali tentu mereka mempunyai
basis massa yang besar.
Peran istri ABM juga tak bisa
diremehkan.
Selain sebagai mantan
Ketua PMI Polman dan saat ini Ketua
Tim Penggerak PKK serta pembina
majelis taklim, Andi Bau Ruskati atau
dikenal dengan sapan Bau Atti' merupakan bangsawan Majene.
Ini
adalah alasan untuk memasukkan
pendukung tradisional ke dalam
potensi kekuatan ABM. Satu lagi,
saudara Bau Atti, merupakan isteri
dari Maraqdia Mamuju, Maksum Dai. Adapun Tashan, secara umum dikenal
sebagai orang Majene.
Tapi
moyangnya, berasal dari Balanipa.
Juga ada darah Tande-nya menurut
keterangan beberapa orang. Walau TB
biasa juga dipanggil "daeng" (sebab bangsawan), pendukung
tradisionalnya tidak terbilang banyak. Melihat basis dukungan ABM-Ta' yang
berada di Polman dan Majene, wajar
bila ada dugaan pasangan ini akan
memusatkan penggalangan
pengaruh di Mamuju, Mamuju Utara,
dan Mamasa.
Selain tetap menjaga pendukung di Polman dan Majene. Juga ada beberapa tokoh yang jelas
memberi dukungan.
Yang paling
banyak adalah pejabat di Polman.
Sekdes, Kepala Desa, Camat hingga
Kepala SKPD. Mereka "diharapkan"
mendukung Bupati Polman yang maju dalam pilgub.
Beberapa hari terakhir, di acara yang
diadakan ABM-Ta' setelah mendaftar
di KPU, telah tersiar di media massa
akan dukungan tokoh terhadap
pasangan tersebut.
AAS dan Aladin S. Mengga
Posisi incumbent dalam pilgub Sulbar
ditempati Anwar Adnan Shaleh.
Pasangannya Aladin S. Mengga, adik
Salim S. Mengga. Aladin pernah
menjabat kepala dinas di salah satu
SKPD di lingkup Provinsi Sulawesi Barat lalu, di-nonjob-kan gubernur
(dalam hal ini AAS) dengan alasan
tertentu. Calon inilah yang paling banyak
didukung partai politik.
Partai politik
yang memiliki kursi di dewan dan
mendukung calon ini, adalah Partai
Golkar, Partai PDI-P, PKS, Partau
Hanura, PKPB, PPP, dan PDS. Adapun partai non-kursi ialah Partai Pelopor,
PPDI, PPI, PPPI, PBB, PNBK, PKDI, Partai
Kedaulatan, Partai RepublikaN, PBM,
PIB, PKNU, PPNUI, PKPI, PPRN, dan
Partai Patriot.
Baliho, Sumbangan Pengusaha
Tak seperti ABM-Ta' yang memiliki
ABM-Brother dan TC yang aktif
mensosialisasikan direkturnya ke
masyarakat jauh sebelum proses
pendaftaran ke KPU, AAS ataupun
Aladin sepertinya tak memiliki lembaga yang agresif memasang
baliho di mana-mana. Memang ada
"Raditya" (nama perusahaan AAS),
tapi sejauh pengamatan Koran
Mandar, logo dan nama Raditya hanya
ada di salah satu layar peserta Sandeq Race beberapa tahun lalu.
Tak ada
baliho 'ber-cap' Raditya di seantero
Sulbar, sebagaimana TC.
Malah yang aktif memasang baliho
sebagai bentuk 'pengabdian' ke AAS
adalah para pengusaha yang selama
ini disinyalir telah banyak mendapat
"kue kekuasaan".
Asosiasi Jasa
Kontruksi-pun telah memproklamirkan mendukung
penuh AAS-Aladin.
Sama halnya kampanye terselubung
dari beberapa SKPD, yang memasang
foto AAS di setiap baliho yang
dipasang.
Walau tak ada keterangan
resmi akan arah dukungan,
kecenderungan para pejabat lingkup provinsi adalah lebih banyak
mendukung AAS-Aladin.
Organisasi semi-politik yang mungkin
juga mendukung pasangan ini adalah
Pemuda Pancasila, yang mana
ketuanya dijabat Suhardi Duka, Bupati
Mamuju sekaligus Ketua Ahrian Partai
Golkar Sulbar.
Jalur Pemuda Pancasila di tingkat kabupaten juga menjadi
fans berat AAS.
Misalnya Gazali
Baharuddin. Anak Baharuddin Lopa.
Gazali merupakan ketua Pemuda
Pancasila di Polman.
Adapun basis massa tradisional calon
ini adalah asal mereka berdua: AAS
dari Mambi (wilayah Kabupaten
Mamasa) dan Aladin dari Polewali
Mandar. AAS tidak mengakar kuat di
daerah asalnya sebab masa remaja hingga berkarir AAS lebih banyak di
luar Sulawesi Selatan (waktu itu).
Mungkin itu sebabnya pada pemilihan
anggota DPR-RI beberapa waktu lalu,
AAS tidak lolos. Basis massa
tradisional dari pihak istrinya juga tak ada, sebab Hj. Enny Anggraeni berasal
dari Sulawesi Tenggara.
Sedangkan Aladin, pengaruhnya
dibayang-bayangi atau terbelah
dengan kakaknya, Salim S. Mengga.
Basis massa tradisional keluarga S.
Mengga adalah Tinambung
(khususnya Lawarang), pedalaman Mandar, dan Pambusuang. Juga
Polewali. Di daerah itulah banyak
bermukim pendukung fanatik
keturunan S. Mengga.
Mamuju juga bisa dimasukkan sebagai
potensi massa AAS sebab posisinya
sebagai ibukota Sulawesi Barat.
Alasannya jelas, pejabat dan
pengusaha yang mempunyai
kepentingan dengan AAS lebih banyak berada di sana. Aktivitas
mempengaruhi masyarakat Mamuju
lebih mudah dan gampang.
Demikian juga Kabupaten Majene,
Mamuju Utara, dan Mamasa. Semua
bupatinya jelas mendukung AAS-
Aladin. Bupati dari tiga kabupaten
tersebut ikut mengantar AAS-Aladin
menuju KPU. Jadi jelas kemungkinan, sebagai pemimpin kabupaten juga
akan digunakan memengaruhi
masyarakat di wilayah kerjanya.
Didukung Pejuang Sulbar
Tak bisa disepelekan, adalah
dukungan terhadap AAS-Aladin yang
berasal dari tokoh-tokoh
pembentukan Provinsi Sulawesi Barat.
Walau para tokoh tidak satu suara
mendukung AAS-Aladin, kubu pendukung AAS-Aladin sepertinya
lebih banyak, walau lebih sedikit
dibanding periode pilgub
sebelumnya. Apalagi dari "marga"
Hasanuddin. Mereka adalah Basri
Hasanuddin, Rahmat Hasanuddin dan Makmun Hasanuddin. Basri adalah
mantan duta besar untuk Republik
Iran. Sedang Rahmat dan Ma'mun kini
berada di pucuk pimpinan yayasan
yang mengurus Universitas Sulawesi
Barat (Unsulbar). Artinya, ada "jalur khusus" yang digunakan AAS-Aladin
memengaruhi mahasiswa; dan
mereka berasal dari Pambusuang,
yang juga asal Aladin S. Mengga,
sekaligus basis massa Salim S. Mengga.
Salim S. Mengga - Jawas Gani
Setidaknya ada dua tagline yang
dipakai pasangan ini
mensosialisasikan duet mereka, yakni
"SMS Saja" (Saatnya Memilih Sekarang
Salim Jawas) dan atau SALIM SAJA
(Salim S. Mengga - Jawas). Paket ini didukung enam partai politik, yaitu
PAN, PBR, PPD, Barnas, PKB, dan Partai
Buruh.
Pasangan ini, khususnya Salim S.
Mengga, dikenal sebagai sosok yang
memiliki pendukung tradisional yang
paling kuat dan fanatik. Penyebabnya
adalah kharisma yang dimiliki, baik
pribadi yang tegas, dan mumpuni bicara soal agama, juga berdasar
faktor keturunan. Ayahnya, S. Mengga
adalah pemimpin paling melegenda di
Mandar, mantan Bupati Polewali
Mamasa beberapa periode yang juga
pejuang di masa pergolakan.
Salim S. Mengga juga memiliki garis
darah "sayyid", yang di kalangan
masyarakat tradisional masih sangat
dihormati dan disegani. Itu sebabnya,
banyak tokoh yang berasal dari
kalangan "sayyid", mendukung pasangan ini. Salah seorang tokoh
yang datang mengantar pasangan ini
ke KPU, hingga ke ruang Media Centre
KPU Sulbar adalah Sayyid Jafar Thaha
al-Mahdaliy bersama putranya, Sayyid
Ahmad Fauzi al-Mahdaliy.
Lumbung suara Salim Mengga berada
di Tinambung dan Balanipa
(Pambusuang). Itulah sebabnya,
ketika akan menuju KPU Sulbar,
rombongan SMS Saja berangkat dari
Pambusuang, tepatnya "rumah putih" milik kerabat Baharuddin Lopa. Juga
diadakan ritual membaca do'a di
Mesjid Taqwa Pambusuang sesaat
sebelum rombongan SMS Saja menuju
Mamuju.
Sama seperti pasangan AAS-Aladin,
SMS Saja juga tak memiliki organisasi
pionir dalam mensosialisasikan diri
sebelum resminya pendaftaran di KPU
Sulbar. Meski demikian, ada beberapa
momen yang menjadikan sosialisasi diri keduanya terus kontinyu di
masyarakat Sulbar. Misalnya Salim,
selain pilgub 2006 lalu, juga aktif
mengkampanyekan diri di masa
pemilihan anggota legislatif, yang
mana mengantar Salim S. Mengga sebagai anggota DPR-RI.
Selain itu, Salim S. Mengga juga aktif ke
masyarakat di masa pencalonan
Aladin S. Mengga sebagai Bupati
Polman (tapi dikalahkan oleh ABM),
pencalonan Agus Ambo Jiwa sebagai
Bupati Mamuju Utara (berhasil), dan ceramah-ceramah di banyak mesjid di
Sulawesi Barat. Demikian juga dengan
Jawas Gani, baliho-balihonya banyak
terpasang di masa pemilihan anggota
legislatif, Ppilkada Mamuju, dan jelang
penentuan calon gubernur dan wakil gubernur 2011 ini.
Ormas yang diketahui mempunyai
afiliasi dengan pasangan SMS Saja
adalah Kerukunan Keluarga Mandar
Sulawesi Barat (KKMSB). Ketua KKMSB
Pusat adalah Salim S. Mengga, meski
secara formal tidak ada keputusan resmi KKMSB mendukung paket SMS
Saja.
Meskipun Salim Mengga berlatar
belakang militer, dan pernah
menyandang jabatan setingkat
Pangdam, pengaruhnya di kalangan
militer di Sulawesi Barat kemungkinan
tidak kuat, sebab tidak pernah ditugaskan di wilayah Mandar. Selain
itu, hak pilih prajurit memang tidak
ada.
Uniknya, hanya pasangan ini yang
memiliki unsur orang Mamuju, yakni
lewat sosok Jawas Gani. Jawas Gani
juga diketahui sebagai mantan Ketua
Tim Pemenangan Suhardi Duka dalam
pilkada Kabupaten Mamuju beberapa waktu lalu. Posisinya yang sedemikian
strategis itu, menimbulkan anggapan
bahwa Jawas Gani mengetahui
dengan baik peta kekuatan di
Mamuju.
Adapun tokoh-tokoh yang memberi
dukungan ke SMS Saja ialah Rudy
Alfonso (pengacara), H. Kalman Bora
(pengusaha), H. Syahril M. Taher
(pengusaha, politisi Mandar di
Kalimantan Timur yang juga Ketua Persiba Balikpapan), Salman Dianda
Anwar (Sekjen KKMSB Pusat), Said
Saggaf (mantan Bupati Mamasa, Ketua
KKMSB wilayah Sulawesi Selatan) dan
beberapa tokoh masyarakat lokal,
seperti H. Kosi di Tinambung. Pada beberapa acara yang diadakan Salim
S. Mengga, juga ikut hadir almarhum
Prof. Darmawan Masud dan putranya
Prof. Gufron.
Beberapa pejuang pembentukan
Provinsi Sulawesi Barat yang dulunya
mendukung AAS sekarang ini
berbalik haluan mengalihkan
dukungannya ke Salim S. Mengga.
Selain tokoh yang disebut di atas, yang lain adalah Naharuddin (mantan
Sekretaris KAPP-Sulbar/ Partai Barnas),
H. Zikir Sewai (pengusaha dari Majene
(Grup Fajar Mas), dan H. Gaus Bestari.
Sedang tokoh masyarakat lain ialah
Yusuf Tuali (mantan Wakil Bupati Polman, tokoh senior Muhammadiyah)
dan Rahman Bande. (ed/ lim)
sumber:
koranmandar.com
{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar